Dalam banyak organisasi, AI mulai digunakan sebagai alat bantu kerja sehari-hari. Karyawan memanfaatkannya untuk mempercepat berbagai aktivitas, sementara manajemen berharap AI akan membantu meringankan beban kerja dan meningkatkan efektivitas. Namun di lapangan, muncul fenomena yang lebih kompleks yaitu AI menurunkan efektivitas kerja, pekerjaan terasa lebih cepat, tetapi tidak selalu lebih fokus atau lebih efektif.
Situasi ini sering luput dari perhatian karena tidak muncul sebagai masalah besar di awal. Justru karena dampaknya halus dan bertahap, risiko penggunaan AI tanpa arahan sering dianggap sepele. Artikel ini mengajak HR dan middle manager melihat sisi lain dari penggunaan AI: bagaimana AI dapat menurunkan efektivitas kerja ketika digunakan tanpa kerangka yang jelas.
Ketika AI Menambah Beban Kognitif dan Menurunkan Efektivitas Kerja
Salah satu asumsi paling umum tentang AI adalah bahwa ia mengurangi beban kerja mental. Pada kenyataannya, tanpa arahan yang tepat, AI justru dapat menurunkan efektivitas kerja dan menambah beban kognitif.
Terlalu Banyak Informasi, Terlalu Sedikit Kejelasan
AI mampu menghasilkan banyak opsi, sudut pandang, dan ringkasan dalam waktu singkat. Namun, karyawan tetap harus memilih mana yang relevan, mengevaluasi kualitas output, dan memutuskan apa yang akan digunakan.
Tanpa panduan, proses ini justru memperbesar beban berpikir. Alih-alih fokus pada inti pekerjaan, karyawan menghabiskan energi mental untuk memilah dan menafsirkan hasil AI. Riset dari Gartner menunjukkan bahwa teknologi yang menambah volume informasi tanpa struktur dapat meningkatkan cognitive load dan menurunkan efektivitas pengambilan keputusan.
Dalam jangka pendek, beban ini mungkin tidak terasa. Namun dalam jangka menengah, karyawan mulai mengalami kelelahan kognitif yang berdampak pada kualitas kerja.
Fokus Kerja yang Perlahan Melemah
Selain beban kognitif, penggunaan AI tanpa arahan juga memengaruhi fokus kerja. Fokus bukan hanya soal konsentrasi, tetapi tentang kejelasan tujuan dan arah pekerjaan.
Ketika AI Menggeser Perhatian dari Tujuan Utama
Tanpa kerangka yang jelas, AI sering menarik perhatian karyawan ke hal-hal sekunder: alternatif ide, variasi format, atau kemungkinan tambahan yang sebenarnya tidak krusial. Karyawan menjadi sibuk “memperbaiki” output, tetapi kehilangan arah terhadap tujuan awal.
Laporan dari McKinsey & Company menekankan bahwa teknologi yang tidak terintegrasi dengan cara kerja dapat mengganggu fokus strategis. AI, jika tidak diarahkan, berpotensi memperluas ruang eksplorasi tanpa membantu karyawan menentukan apa yang benar-benar penting.
Akibatnya, pekerjaan terasa lebih aktif, tetapi hasilnya tidak semakin tajam atau terarah.
Over-Reliance pada AI sebagai Risiko Tersembunyi
Risiko lain yang muncul secara perlahan adalah ketergantungan berlebihan pada AI. Over-reliance bukan berarti karyawan berhenti berpikir, tetapi berpikir dengan cara yang semakin sempit.
Ketika AI Menjadi Rujukan Utama Tanpa Evaluasi
Dalam tekanan target dan waktu, karyawan cenderung mempercayai output AI sebagai rujukan awal, bahkan rujukan utama. Tanpa arahan yang jelas, evaluasi kritis sering dikurangi demi efisiensi. Di titik ini, AI tidak lagi menjadi asisten, tetapi menjadi “penentu awal” arah kerja.
Laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengingatkan bahwa penggunaan AI di tempat kerja perlu diimbangi dengan literasi yang menekankan peran manusia sebagai pengambil keputusan utama. Tanpa itu, ketergantungan dapat berkembang menjadi risiko kualitas, akuntabilitas, dan profesionalisme.
Over-reliance ini jarang terlihat sebagai masalah langsung, tetapi dampaknya muncul dalam bentuk keputusan yang kurang matang dan berkurangnya keberanian untuk berpikir kritis.

AI Tanpa Arahan: Dari Alat Bantu ke Sumber Inefisiensi
Jika ketiga faktor di atas—beban kognitif, fokus yang melemah, dan over-reliance—digabungkan, gambaran besarnya menjadi jelas. AI tanpa arahan tidak otomatis meningkatkan efektivitas; dalam kondisi tertentu, justru menurunkannya.
Efisiensi Semu dalam Aktivitas Kerja
AI memang dapat mempercepat aktivitas tertentu. Namun, kecepatan tanpa arah menghasilkan efisiensi semu, yaitu pekerjaan terlihat bergerak cepat, tetapi nilai tambahnya terbatas. Middle manager sering merasakan dampaknya ketika harus meninjau ulang output, menyelaraskan kembali arah kerja, dan mengoreksi keputusan yang diambil terlalu dini.
Di sinilah pentingnya melihat AI bukan sebagai alat netral, tetapi sebagai teknologi yang membutuhkan arahan agar dampaknya positif.
Peran HR dan Middle Manager dalam Memberi Arahan
Penggunaan AI tanpa arahan jarang terjadi karena karyawan sengaja mengabaikan aturan. Lebih sering, hal ini terjadi karena belum adanya pendekatan yang jelas dari organisasi.
Dari Kebebasan Menggunakan AI ke Penggunaan yang Terarah
HR dan middle manager memiliki peran strategis dalam menjembatani teknologi dan cara kerja. Bukan dengan membatasi penggunaan AI, tetapi dengan menyepakati tujuan penggunaan, memperjelas ekspektasi kualitas, dan membangun kebiasaan evaluasi yang sehat.
Pendekatan ini menjadi dasar dari pendekatan pelatihan AI yang relevan untuk karyawan, yang dibahas lebih lanjut dalam artikel tentang mengapa pelatihan AI untuk karyawan perlu bersifat non-teknis dan kontekstual
Mengaitkan Risiko dengan Gambaran Besar Organisasi
Risiko efektivitas akibat AI tanpa arahan tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan isu produktivitas, kualitas kerja, dan tata kelola organisasi secara keseluruhan.
Kerangka besar ini dibahas secara komprehensif dalam halaman rujukan utama Pelatihan AI untuk Produktivitas & Efektivitas Kerja Karyawan, dengan pelatihan ini ReFrame Positive membantu organisasi melihat hubungan antara AI, manusia, dan sistem kerja secara utuh.
Mengarahkan AI sebelum Menilai Dampaknya
AI bukan teknologi yang berbahaya, tetapi juga bukan teknologi yang netral. Dampaknya sangat ditentukan oleh bagaimana organisasi mengarahkannya. Tanpa arahan, AI dapat menambah beban kognitif, melemahkan fokus, dan mendorong ketergantungan yang tidak disadari.
Bagi HR dan middle manager, memahami risiko ini sejak awal memungkinkan organisasi mengambil langkah yang lebih bijak. Bukan untuk menunda penggunaan AI, tetapi untuk mengarahkannya agar benar-benar mendukung efektivitas kerja dalam jangka menengah dan panjang.
Jika setelah membaca artikel ini Anda mulai melihat AI dari sudut pandang yang berbeda—bukan hanya sebagai alat bantu, tetapi sebagai teknologi yang perlu diarahkan—maka kesadaran risiko awal sudah terbentuk.