Banyak organisasi masih menempatkan kemampuan berbicara karyawan sebagai isu sekunder. Selama pekerjaan selesai dan target tercapai, cara karyawan menyampaikan ide jarang dipermasalahkan. Public speaking sering dianggap urusan personal—soal percaya diri, bakat, atau jam terbang.
Masalahnya, di dunia kerja profesional, keputusan tidak hanya ditentukan oleh kualitas ide, tetapi oleh bagaimana ide tersebut dipahami. Dalam rapat, forum lintas divisi, dan presentasi strategis, pesan yang tidak jelas sering kali dipersepsikan sebagai ide yang belum matang. Di sinilah kerugian bisnis mulai terjadi, perlahan, konsisten, dan sering kali tanpa disadari.
Public speaking karyawan yang buruk bukan sekadar masalah gaya bicara. Ia memengaruhi kecepatan pengambilan keputusan, kualitas diskusi, dan kejelasan arah kerja. Organisasi yang mengabaikan hal ini sebenarnya sedang membiarkan kebocoran performa terjadi di level paling mendasar: komunikasi.
Masalah Utama yang Terjadi di Lapangan
Di banyak perusahaan, karyawan sebenarnya memahami pekerjaannya dengan baik. Mereka menguasai data, proses, dan konteks teknis. Namun ketika diminta mempresentasikan ide atau laporan di forum profesional, pesan yang disampaikan sering kali tidak terstruktur.
Presentasi menjadi terlalu panjang, penuh detail teknis, dan kehilangan fokus pada inti persoalan. Karyawan menjelaskan apa yang mereka kerjakan, tetapi gagal menjawab apa yang perlu diputuskan. Akibatnya, diskusi melebar, manajemen harus menggali ulang informasi, dan waktu rapat terserap untuk klarifikasi yang seharusnya tidak perlu.
Situasi ini menciptakan pola berulang: rapat yang tidak efisien, keputusan yang tertunda, dan ide yang akhirnya tidak ditindaklanjuti. Yang terlihat di permukaan hanyalah “presentasi kurang meyakinkan”. Yang tidak terlihat adalah biaya waktu dan energi manajerial yang terus terbuang dari satu rapat ke rapat berikutnya.
Mengapa Ini Bukan Masalah Individu, Tapi Sistem
Kesalahan umum organisasi adalah memandang public speaking sebagai kemampuan alami. Karyawan yang lancar berbicara dianggap “berbakat”, sementara yang lain dinilai kurang percaya diri. Pendekatan ini menutup fakta bahwa sebagian besar organisasi tidak pernah membangun standar komunikasi profesional.
Tidak ada panduan jelas tentang bagaimana menyampaikan ide di forum formal. Tidak ada pelatihan terstruktur tentang menyusun pesan sesuai audiens. Tidak ada umpan balik yang membantu karyawan memperbaiki cara berbicara mereka secara sistematis. Dalam kondisi seperti ini, kegagalan komunikasi bukanlah anomali, melainkan konsekuensi yang dapat diprediksi.
Organisasi secara tidak sadar menciptakan ketimpangan: hanya segelintir karyawan yang terlihat dan didengar, sementara banyak potensi lain tetap tersembunyi. Ini bukan kegagalan individu, melainkan kegagalan sistem pengembangan SDM dalam membangun kapasitas komunikasi yang merata.

Dampak Nyata terhadap Bisnis & Keputusan
Dampak public speaking karyawan yang buruk jarang tercatat secara eksplisit, tetapi terasa di banyak titik proses bisnis. Salah satu dampak paling nyata adalah inefisiensi waktu. Rapat menjadi lebih panjang karena pesan tidak tersampaikan dengan jelas sejak awal. Manajemen harus mengulang pertanyaan, meminta klarifikasi, dan menunda keputusan.
Pemborosan Waktu dan Energi Kerja
Riset yang dirangkum oleh Apollo Technical menunjukkan bahwa tim dengan komunikasi yang efektif dapat meningkatkan produktivitas hingga 25%. Sebaliknya, komunikasi yang buruk menjadi sumber utama pemborosan waktu dan energi kerja. Dalam konteks organisasi, inefisiensi ini berarti biaya implisit yang terus berulang, terutama pada level manajerial yang seharusnya fokus pada keputusan strategis.
Kualitas Keputusan yang Parsial
Selain waktu, kualitas keputusan juga terdampak. Ketika ide disampaikan secara tidak terstruktur, manajemen cenderung mengambil keputusan berdasarkan pemahaman parsial. Risiko salah arah meningkat, terutama dalam situasi strategis yang menuntut kejelasan dan ketegasan. Komunikasi yang lemah membuat organisasi bergerak lebih lambat, bukan karena kurang data, tetapi karena data tersebut tidak disajikan secara efektif.
Kepercayaan Terhadap Tim Berkurang
Lebih jauh, komunikasi yang lemah memengaruhi kepercayaan internal. Data dari Pumble menunjukkan bahwa lebih dari 60% pemimpin bisnis mengaitkan komunikasi efektif dengan peningkatan kinerja tim. Jika komunikasi buruk menjadi pola, kepercayaan terhadap kemampuan tim ikut terkikis—bukan karena kinerja mereka rendah, tetapi karena kontribusi mereka tidak tersampaikan dengan baik.
Decision Fatigue Level Manajemen
Dampak lain yang sering luput diperhitungkan adalah decision fatigue di level manajemen. Ketika informasi tidak disampaikan secara ringkas dan terstruktur, manajemen dipaksa bekerja lebih keras hanya untuk memahami konteks, bukan untuk mengambil keputusan. Energi kognitif yang seharusnya digunakan untuk berpikir strategis justru habis untuk memilah informasi yang tidak tersaji dengan jelas.
Dalam jangka panjang, kondisi ini menurunkan kualitas pengambilan keputusan. Bukan karena manajemen kurang kompeten, tetapi karena sistem komunikasi internal tidak mendukung proses berpikir yang efisien. Organisasi menjadi lebih lambat merespons perubahan, bukan karena kekurangan data, melainkan karena data tersebut tidak pernah disampaikan dalam bentuk yang siap diputuskan.
Cermin untuk Organisasi Anda
Berapa banyak rapat yang berakhir tanpa keputusan jelas karena pesan yang disampaikan tidak fokus?
Berapa banyak ide karyawan yang sebenarnya relevan, tetapi tidak pernah dipertimbangkan serius karena presentasinya membingungkan?
Berapa banyak waktu manajemen yang habis untuk meluruskan miskomunikasi internal yang seharusnya bisa dicegah?
Jika pertanyaan-pertanyaan ini terasa dekat dengan realitas organisasi Anda, besar kemungkinan public speaking karyawan bukan isu sepele. Ia sudah menjadi faktor yang memengaruhi efektivitas kerja sehari-hari, hanya saja belum pernah ditangani secara sistematis.
Cara Organisasi Matang Menyikapi Masalah Ini
Organisasi yang matang tidak menunggu masalah komunikasi berubah menjadi konflik atau kegagalan proyek. Mereka menyadari bahwa komunikasi adalah infrastruktur kerja, sama pentingnya dengan sistem operasional dan teknologi.
Membangun Standar Komunikasi
Organisasi yang reaktif biasanya hanya bereaksi ketika presentasi gagal atau konflik muncul. Sebaliknya, organisasi yang strategis membangun standar komunikasi sejak awal. Mereka menetapkan ekspektasi yang jelas tentang bagaimana ide disampaikan, bagaimana laporan dipresentasikan, dan bagaimana diskusi difasilitasi secara profesional.
Public speaking diposisikan sebagai kompetensi kerja yang dapat dilatih dan diperbaiki, bukan sebagai bakat yang diharapkan muncul sendiri. Dengan pendekatan ini, organisasi tidak bergantung pada segelintir orang yang “pintar bicara”, tetapi membangun kapasitas komunikasi yang lebih merata dan berkelanjutan.
Dari Masalah ke Solusi yang Relevan
Ketika public speaking karyawan dipahami sebagai isu sistemik dengan dampak bisnis nyata, pendekatan penyelesaiannya pun berubah. Organisasi tidak lagi mengandalkan pengalaman individual atau trial and error, tetapi memilih intervensi yang terstruktur dan relevan dengan konteks kerja.
Di titik inilah pelatihan public speaking karyawan menjadi bagian dari keputusan strategis. ReFrame Positive merancang pelatihan ini selain membuat karyawan tampil percaya diri, juga untuk memastikan ide, data, dan rekomendasi dapat disampaikan secara jelas, profesional, dan mendukung kualitas keputusan bisnis.