Training leadership sekali jalan vs program berkelanjutan sering menjadi perdebatan dalam dunia pengembangan sumber daya manusia di organisasi. Banyak perusahaan masih mengandalkan pelatihan kepemimpinan satu atau dua hari dengan harapan dapat menciptakan perubahan signifikan dalam perilaku para leader. Namun dalam praktiknya, ekspektasi tersebut tidak selalu terpenuhi.

Masalahnya bukan pada niat organisasi untuk mengembangkan kepemimpinan, tetapi pada pendekatan yang digunakan. Ketika organisasi berharap hasil jangka panjang dari intervensi jangka pendek, kesenjangan antara harapan dan realitas menjadi sulit dihindari. Karena itu, semakin banyak perusahaan mulai membandingkan training leadership sekali jalan dengan program leadership development berkelanjutan untuk memastikan investasi pengembangan kepemimpinan benar-benar memberikan dampak.

Training Leadership Sekali Jalan Sering Tidak Memberikan Dampak

Dalam banyak organisasi, pelatihan kepemimpinan sering dirancang sebagai kegiatan tertentu dalam kalender tahunan. Program ini biasanya berlangsung dalam waktu singkat dan berfokus pada penyampaian konsep atau keterampilan tertentu.

Pendekatan ini memang memiliki manfaat, tetapi sering tidak cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku kepemimpinan yang berkelanjutan.

Keterbatasan intervensi jangka pendek

Training leadership sekali jalan sering menekankan transfer pengetahuan. Peserta mempelajari konsep kepemimpinan, model komunikasi, atau pendekatan manajemen tim yang dianggap relevan. Namun pembelajaran semacam ini sering tidak diikuti dengan proses penerapan yang berkelanjutan.

Profesor psikologi organisasi Anders Ericsson, yang dikenal melalui penelitian tentang deliberate practice, menjelaskan bahwa pengembangan keahlian kompleks membutuhkan latihan yang berulang dan terarah. Dalam bukunya Peak: Secrets from the New Science of Expertise, Ericsson menunjukkan bahwa perubahan kompetensi tidak dapat terjadi hanya melalui satu pengalaman belajar singkat.

Hal ini juga berlaku dalam konteks kepemimpinan. Tanpa praktik yang berulang, konsep yang dipelajari dalam pelatihan sering sulit diterapkan secara konsisten.

Realitas kerja yang berbeda dari ruang pelatihan

Faktor lain yang membuat training leadership sekali jalan kurang berdampak adalah perbedaan antara lingkungan pelatihan dan realitas kerja sehari-hari. Di ruang pelatihan, peserta dapat berdiskusi dan bereksperimen dengan berbagai pendekatan kepemimpinan.

Namun ketika kembali ke tempat kerja, mereka menghadapi tekanan operasional, dinamika tim, serta tuntutan organisasi yang kompleks. Tanpa dukungan lanjutan, banyak peserta akhirnya kembali menggunakan pola kepemimpinan lama yang lebih familiar bagi mereka.

Penelitian dari Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD) menunjukkan bahwa banyak program pelatihan organisasi gagal menghasilkan perubahan jangka panjang karena tidak diintegrasikan dengan praktik kerja sehari-hari.

Dampak Ketika Ekspektasi Organisasi Tidak Terpenuhi

Ketika organisasi mengandalkan pelatihan singkat untuk menghasilkan perubahan besar, kesenjangan antara harapan dan kenyataan sering muncul. Hal ini dapat mempengaruhi persepsi organisasi terhadap program pengembangan kepemimpinan.

Menurunnya kepercayaan terhadap program pengembangan

Ketika pelatihan tidak menghasilkan perubahan yang terlihat, manajemen sering mulai mempertanyakan efektivitas investasi dalam pengembangan kepemimpinan.

Program pelatihan yang awalnya dianggap sebagai solusi strategis kemudian dipandang sebagai kegiatan formalitas yang tidak memberikan nilai nyata bagi organisasi.

Menurut laporan Global Human Capital Trends dari Deloitte, banyak organisasi mengakui bahwa mereka telah berinvestasi dalam berbagai program pengembangan leadership, tetapi tidak selalu memiliki bukti yang jelas mengenai dampaknya terhadap kinerja organisasi.

Situasi ini dapat mengurangi kepercayaan terhadap upaya pengembangan kepemimpinan di masa depan.

Hilangnya kesempatan untuk membangun kepemimpinan jangka panjang

Selain mempengaruhi persepsi terhadap pelatihan, pendekatan yang terlalu fokus pada intervensi jangka pendek juga membuat organisasi kehilangan kesempatan untuk membangun kepemimpinan secara sistematis.

Kepemimpinan bukan sekadar keterampilan teknis yang dapat dipelajari dalam waktu singkat. Ia berkaitan dengan cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, serta berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai situasi.
Perubahan semacam ini membutuhkan waktu dan proses pembelajaran yang berkelanjutan.

training leadership vs leadership program
ReFrame Positive – Training Leadership vs Leadership Program

Bukti Program Leadership Development Berkelanjutan Lebih Efektif

Berbeda dengan training leadership sekali jalan, program leadership development berkelanjutan dirancang sebagai proses pembelajaran jangka panjang. Pendekatan ini melihat pengembangan kepemimpinan sebagai perjalanan yang berkembang seiring pengalaman kerja.

Dalam konteks organisasi modern, pendekatan ini semakin banyak digunakan untuk memastikan bahwa pengembangan leadership benar-benar memberikan dampak.

Pembelajaran yang terjadi secara bertahap

Program leadership development biasanya dirancang dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. Peserta tidak hanya belajar konsep kepemimpinan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari.

Profesor kepemimpinan David A. Garvin dari Harvard Business School menekankan pentingnya organisasi pembelajar dalam bukunya Learning in Action. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran organisasi yang efektif terjadi ketika pengalaman kerja, refleksi, dan diskusi digabungkan dalam satu proses yang berkelanjutan.

Pendekatan ini memungkinkan para leader mengembangkan kemampuan mereka secara bertahap.

Penguatan melalui praktik dan refleksi

Dalam program leadership development yang berkelanjutan, pembelajaran tidak berhenti pada sesi pelatihan. Peserta biasanya didorong untuk menerapkan pembelajaran dalam situasi kerja nyata, kemudian merefleksikan pengalaman tersebut bersama mentor atau fasilitator.

Proses ini membantu leader memahami bagaimana konsep kepemimpinan dapat diterapkan dalam konteks organisasi mereka. Dengan cara ini, pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menjadi bagian dari praktik kepemimpinan sehari-hari.

Menggeser Perspektif dari Pelatihan Singkat ke Program Berkelanjutan

Bagi organisasi yang ingin membangun kepemimpinan yang kuat, penting untuk melihat pengembangan leadership sebagai proses jangka panjang. Pelatihan singkat masih dapat menjadi bagian dari proses tersebut, tetapi tidak cukup jika berdiri sendiri.

Rancangan program leadership development yang berkelanjutan dari ReFrame Positive, agar organisasi dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan leader berkembang secara bertahap. Pendekatan ini membantu memastikan bahwa investasi dalam pengembangan kepemimpinan benar-benar menghasilkan perubahan yang nyata.

Dengan memahami perbedaan antara training leadership sekali jalan vs program berkelanjutan, organisasi dapat merancang strategi pengembangan kepemimpinan yang lebih efektif. Pada akhirnya, pendekatan yang berkelanjutan memberikan kesempatan bagi para leader untuk belajar, bereksperimen, dan berkembang seiring perjalanan karier mereka dalam organisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *